Penelitian baru tentang pengecilan otak pada usia lanjut menunjukkan bahwa olahraga mungkin lebih bermanfaat dibandingkan kegiatan yang merangsang secara mental dan secara sosial.Tim Peneliti Universitas Edinburgh, Skotlandia, Inggris menyampaikan kesimpulan itu setelah melakukan beberapa penelitian terhadap 638 orang yang berusia 70-an tahun.Mereka memindai otak peserta dengan menggunakan MRI (Magnetic Resonance Imaging) untuk mengetahui perubahan struktural pada otak.Hasil pemindaian menunjukkan bahwa mereka yang aktif secara fisik mengalami pengecilan otak lebih sedikit. Selain menjaga bagian korteks otak besar, bagian dari pusat berfikir, olahraga juga bisa membantu mengurangi kerusakan pada ganglia dasar. Para Ilmuwan mengatakan olahraga yang diperlukan tidak harus kegiatan yang berat, tetapi cukup berjalan kaki beberapa kali seminggu. Menurut Ilmuwan, dengan berolahraga, maka aliran darah ke otak meningkat sehingga pasok oksigen dan nutrisi tercukupi.Sebagai perbandingan, tim ilmuwan meneliti mereka yang melakukan kegiatan latihan mental seperti mengerjakan teka-teki dan bermain catur. Hasil aktivitas tersebut minim. Hasil penelitian ilmuwan Edinburgh diterbitkan di jurnal Neurology.
Penyakit Stroke dapat mengancam siapa saja, baik pria dan wanita yang dapat dipicu oleh gaya hidup tidak sehat. Penelitian baru menunjukkan bahwa resiko stroke pada wanita dapat berkurang dengan berjalan 3,5 jam tiap minggu. Aktivitas fisik telah dikaitkan dengan rendahnya resiko stroke yang disebabkan oleh penimbunan plak dalam arteri atau pecahnya pembuluh darah di otak. Para ahli kesehatan menyarankan bahwa aktivitas fisik dengan intensitas yang sedang dan teratur baik untuk kesehatan dan dapat menjauhkan anda dari ancaman stroke.
Sebuah penelitian yang terbaru yang dilakukan di Spanyol menunjukkan bahwa wanita yang berjalan cepat dengan waktu 3,5 jam atau lebih dalam seminggu memiliki resiko stroke yang lebih rendah dibandingkan wanita yang tidak aktif atau latihan dalam intensitas waktu yang lebih singkat. Penelitian tersebut dipimpin oleh Jose Maria Huerta dari Murcia Regional Health Authority dan melibatkan sekitar 33.000 pria dan wanita. Peserta diminta menjawab kuesioner mengenai aktivitas fisiknya dan dikelompokkan berdasarkan gender, jenis latihan dan total waktu yang dihabiskan untuk berolahraga setiap minggunya.
Peserta penelitian diperiksa secara berkala selama periode 12 tahun masa studi untuk merekan setiap gejala stroke yang muncul. Hasilnya diketahui bahwa sekitar 442 orang menunjukkan adanya tanda-tanda stroke. Berdasarkan studi tersebut diketahui pula bahwa wanita yang aktif berjalan kaki mengalami penurunan risiko stroke hingga 43% dibandingkan dengan wanita yang tidak efektif. Namun tidak tampak pengurangan risiko serupa pada kelompok pria.
Alasan mengapa manfaat berjalan kaki terhadap risiko stroke lebih banyak dirasakan oleh wanita daripada pria belum memiliki penjelasan yang jelas. Pria mungkin telah memiliki kondisi fisik yang lebih baik dari pada wanita, tetapi tidak ada bukti yang mendukung dugaan tersebut. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal stroke. WHO pun merekomendasikan para wanita untuk berolahraga ringan seperti jalan cepat setidaknya 150 menit atau 2,5 jam setiap minggu untuk mencegah stroke.